Dalam perjalanan menuju ke sebuah acara presentasi mengenai Danareksa di cafe Magenta yang diadakan oleh majalah takberbayar Solace, dalam keadaan macet yang cukup luar biasa, tidak seperti biasanya gw mendengarkan radio. Radio yang gw dengar adalah radio dengan penyiar favorite Ida Ari Murti. Ketika itu sepertinya acara bincang dengan tamu Ratih Sang dan grup musik Rasi kalo tidak salah. Dalam acara tersebut rupanya memperbincangkan atau mungkin promosi album musik dan puisinya Ratih Sang yang dibantu grup musik Rasi.
Awalnya gw dengerin sambil lalu aja, seperti biasa lebih banyak melamunnya. Trus mulailah gw dengerin dengan seksama walau masih sambil lalu juga, ada satu waktu Ratih Sang berpuisi, kalo gak salah mengenai jika wanita (ibu) bisa memilih. Nah ini dia…kok gw merasa sedikit terganggu yah. Sepertinya menurut gw banyak gak pasnya orang ini berpuisi dalam artian kok biasa aja. Pemilihan katanya juga standar aja. Beda sama misalnya si Letto dengan penggunaan kata yang indah atau gw pernah denger juga Ida Ari Murti berpuisi walau penggunaan kata-katanya standar juga tapi kok terdengar pas.
Gw bukan orang yang ahli untuk menilai sebuah puisi, gw hanya orang kebanyakan aja, tapi setidaknya kok gw merasa sedikit terganggu dengan puisi Ratih Sang tersebut….kok rasanya datar, biasa aja gak ada yang lebih. Even dengan cara pembawaannya. Isi puisi dari salah satu yang gw denger itu juga terasa biasa, yang pada dasarnya bahwa menjadi ibu adalah sebuah berkah, bukan dilihat sebagai sebuah pilihan. Atau mungkin bicara pada konteks tertentu yang gw gak pahami? sebagai seorang wanita?
Kenapa engkau berpuisi? kenapa gak nulis biografi aja (mungkin sudah?) soale kata-kata yang dipilih dalam berpuisi kok cocoknya lebih kepada potongan-potongan kehidupan yang coba disuarakan dalam keseluruhan sebuah buku…biografi mungkin? Sekedar kritik ya mbak Ratih…



