Pola Konsumsi Energi dan Penggunaan Energi Surya untuk Permukiman Massal di Kota (bag.1)

Tulisan ini merupakan tulisan saya semasa kuliah magister Kajian Lingkungan. Tulisan ini saya pecah menjadi 4 sub judul: Pendahuluan, Tinjauan Literatur, Analisis, dan Kesimpulan. Semoga berguna bagi pengunjung…

Pendahuluan

Energi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia sejak jaman dahulu. Karena ketergantungan kehidupan manusia terlebih manusia moderen terhadap energi sangat besar, maka sumber-sumber energi yang digunakan dewasa ini telah mengalami krisis. Pemicu penggunaan energi dalam skala besar terjadi pada masa Revolusi Industri (1780-an), sampai memasuki awal abad 20 orang masih eforia terhadap penggunaan energi terlihat dari ‘mesin-mesin’ yang diciptakannya. Eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber energi yang tidak dapat diperbaruhi ini masih terus berlangsung bahkan sampai saat ini. Krisis energi pada dasawarsa 1970-an membawa dampak pada perekonomian dunia. Sebagian besar negara-negara di dunia khususnya di negara maju mulai berpikir untuk mencari bentuk energi baru yang dapat diperbaruhi yang kemungkinan terkena krisis energi kecil. Pencarian sumber energi baru yang dapat diperbaruhi memang telah dilakukan di beberapa negara maju sebelum masa krisis terjadi, tetapi baru sebatas pada laboratorium penelitian dan percobaan atau sebagai pilot project di lembaga-lembaga penelitian dan di kampus-kampus. Sampai sekarangpun penggunaan energi baru untuk jenis tertentu masih dalam bentuk pilot project atau percobaan.

Energi baru adalah energi yang sudah dipakai tetapi sangat terbatas dan sedang dalam tahap pengembangan (pilot project). Energi ini belum dapat diperdagangkan karena belum mencapai skala ekonomis. (Yusgiantoro, P. 2000. hal.7). Penggunaan energi baru pada topik ini adalah penggunaan energi surya (solar energy).  Penggunaan radisasi surya sebagai sumber energi yang dapat diperbaruhi merupakan sebuah teknologi moderen.

Sel fotovoltaik radiasi surya merupakan sebuah alat semikonduktor yang merubah cahaya atau radiasi surya langsung ke dalam arus listrik. Kemajuan dalam pemakaian bahan dan efisiensi sel telah menurunkan sampai 80% dalam dua dekade belakang ini, dan sekarang pada bangunan telah dibuat sebagai penutup atap, lantai dan kaca jendela untuk ‘memperbaruhi’ panggunaan bahan yang lama. Hal ini menyebakan booming di pasar dunia. Biaya dari sel surya akan turun sampai 50-75% untuk memenuhi pesanan dalam berkompetisi dengan penggunaan bahan bakar sebagai pembangit listrik. Peningkatan kapasitasnya mengalami kenaikan dalam dua puluh tahun ini yaitu dari tingkat awal (0 MW) pada tahun 1975, hingga lebih dari 750 MW pada tahun 1995. (Flavin, 1999).

Mobilitas penduduk ke kota (urban) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dan diprediksikan tigapuluh tahun ke depan hampir lebih dari 50% penduduk Indonesia akan tinggal di kota. Angka urbanisasi mengalami kenaikan dari 28,79 (1990) menjadi 52,22 (2020). (Agenda 21. hal 87). Penambahan penduduk di kota menyebabkan daya dukung dan daya tampung kota menjadi semakin kecil, seperti semakin berkurangnya lahan unutk permukiman. Salah satu cara mengatasinya adalah membangun permukiman masal vertikal seperti rumah susun. Pembangunan rumah susun yang begitu banyak untuk mengakomodasi jumlah penduduk yang ada akan menimbulkan masalah baru diantaranya adalah kenaikan akan kebutuhan energi listrik (demand).

Dalam Agenda 21 diproyeksikan permintaan energi untuk sektor rumah tangga mengalami kenaikan dari 1124,42 joule (1991) menjadi 1792,49 joule (2021) dan permintaan tenaga listrik meningkat dari 10 TWh (1990) menjadi 70 TWh (2021). Konsumsi energi rumah tangga dalam hal ini penggunaan penerangan dan peralatan listrik masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,1% dan 9,2% per tahun. Melihat sumber diatas maka suplai akan energi listrik menjadi kurang, untuk mengatasinnya adalah membangun stasiun baru atau menaikan kapasitas pembangkit tenaga listrik dalam rangka memenuhi kebutuhan energi listrik di tahun-tahun mendatang. Adalah dengan membangun stasiun energi baru yang lebih ramah lingkungan dengan ‘bahan dasar’ dapat diperbaruhi. Salah satu pemecahan yang akan ditulis adalah membangun stasiun energi baru yang menggunakan energi surya sebagai alternatif. Disamping  ‘bahan dasarnya’ dapat diperbaruhi juga karena Indonesia berada di daerah katulistiwa (tropis) yang memiliki radiasi matahari sepanjang hari setiap tahunnya yaitu rata-rata sekitar 1700-800 kWh/ tahun (APDC, 1985). Sumber energi listrik itu nantinya berada pada lokal permukiman (khususnya permukiman massal seperti rumah susun atau flat) di daerah perkotaan. Pemanfaatan yang sebesar-besarnya pencahayaan alami dan penghawaan alami dalam disain bangunan permukiman agar dapat didapat  penghematan pemakaian energi atau efisiensi energi.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.