Batu Bara
Batu bara saat ini masih memiliki cadangan yang besar dibandingkan gas alam dan minyak bumi. Penambangan batu bara dalam memiliki kelemahan karena membutuhkan jalan masuk (terowongan) yang umumnya vertikal bagi penambang untuk bisa mengambilnya. Selain itu butuh peralatan untuk dapat diangkut ke permukaan tanah, kemudian di distribusikan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Batu bara sebagai bahan pembangkit listrik menghasilkan partikel kecil (debu) setelah dibakar, menyebabkan hujan abu disekitar lokasi cerobong yang membahayakan kesehatan manusia dan mahkluk hidup lainnya.
Gas Alam
Banyak gas alam yang ada di bumi ini, tetapi tidak semua dapat menjadi sumber energi apalagi sumber energi yang bersih yaitu hasil penggunaannya (pembakaran) tidak mencemari lingkungan. Gas alam yang mengandung metana yang dapat dipakai dengan praktis dan hasilnya lebih bersih tidak meninggalkan bahan-bahan yang merusak lingkungan. Cadangan gas alam relatif lebih sedikit. Gas alam disalurkan melalui pipa-pipa dari pusat penambangan ke tempat-tempat penampungan, kemudian di proses untuk didistribusikan dengan mencairkan gas alam pada tekanan dan suhu tertentu atau kita sebut dengan LNG (Liquidfied Natural Gas). Pengangkutan LNG membutuhkan keamanan yang tinggi karena jika terjadi ledakan maka skala kehacurannya akan tinggi.
Minyak Bumi
Energi yang paling banyak digunakan hingga saat ini adalah minyak bumi. Cadangan minyak bumi lebih besar dari gas alam. Setelah melalui proses, minyak bumi bisa dipisahkan antara lain menjadi minyak solar, premium, minyak tanah dan aspal. Pengangkutan bahan-bahan ini lebih mudah dibanding dengan pengangkutan gas alam untuk didistribusikan karena itu dalam rentang tahun yang lama, minyak bumi menjadi primadona sumber energi bagi kehidupan manusia. Hampir sebagian besar mesin-mesin di seluaruh dunia dijalankan dengan memakai bahan bakar minyak bumi, bahkan mesin-mesin yang dijalankan dengan memakai batu bara telah digantikan dengan bahan bakar minyak bumi. Hasil pembakaran minyak bumi inilah yang membuat polusi udara, memang lebih baik dibandingkan dengan batu bara, tetapi hasil dari puluhan tahun ini yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global.
Fisi dan Fusi Nuklir
Reakasi nuklir dibagi menjadi fisi nuklir (Nuclear Fission) yaitu proses pemecahan inti atom dan fusi nuklir (Nuclear Fusion) yaitu proses penggabungan inti atom. Kedua proses ini menghasilkan panas. Reaksi Termonuklir merupakan proses fisika yaitu sebuah proses penggabungan dua inti atorm, membentuk inti atom yang lebih besar dan melepaskan energi. Proses ini membutuhkan energi yang besar untuk menggabungkan inti nuklir, bahkan elemen yang paling ringan seperti hidrogen. Tetapi fusi inti atom yang ringan, yang membentuk inti atom yang lebih berat dan neutron (partikel subatomik yang tidak bermuatan atau netral) bebas, akan menghasilkan energi yang lebih besar lagi dari energi yang dibutuhkan untuk menggabungkan mereka, sebuah reaksi eksotermik (reaksi yang mengeluarkan panas) yang dapat menciptakan reaksi yang terjadi dengan sendirinya. Penggunaan rekasi termonuklir (nuclear fusion) untuk kepentingan pembangkit listrik masih belum diaplikasikan. Sedangkan yang menggunakan fisi nuklir sudah diaplikasikan. Pengoperasian pembangkit listrik ini butuh keamanan yang tinggi karena jika terjadi ledakan atau kebocoran maka kerusakan yang ditimbulkan akan luas dan butuh waktu yang lama untuk dapat pulih. Proses fusi lebih banyak keuntungan dibandingkan proses fisi. Bahan dasar proses fusi adalah hidrogen yang banyak terdapat di bumi, proses fusi menghasilkan limbah radioaktif lebih sedikit, dan proses ini lebih aman.


