Krisis energi dunia merupakan masalah bersama dan sudah tidak dapat dihindari lagi. Masyarakat dunia terutama di negara-negara maju sudah mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi krisis tersebut. Mereka seakan berlomba-lomba untuk mencari alternatif energi pengganti dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbarui dan ramah terhadap lingkungan. Penggunaan bahan-bahan tambang (yang tidak dapat diperbarui) untuk pembangkit listrik mulai ditinggalkan. Teknologi-teknologi hemat bahan bakar dengan mesin-mesin yang dapat bekerja maksimal terus diciptakan. Inilah gambaran umum global sekarang krisis energi terjadi dan kondisi lingkungan hidup dunia sudah mulai rusak.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa energi listrik yang kita pakai ini bersumber dari pembangkit yang masih menggunakan bahan-bahan tambang yang tidak dapat diperbarui. Selain merusak lingkungan akibat bahan galian dan sisa pembakaran yang dihasilkan, penggalian yang berlebihan untuk memenuhi permintaan energi listrik yang semakin bertambah menyebabkan berkurangnya cadangan bahan baku tersebut di alam.
Sejarah mencatat bahwa revolusi industri pada perjalanan waktunya hingga abad 20 ini menjadi penyebab terjadinya krisis energi dan pemanasan global (global warming). Pemakaian energi yang berlebihan mulai dari industri hingga transportasi menyebabkan penggalian (eksploitasi) bahan-bahan tambang menjadi besar. Teknologi di bidang pertambangan pada gilirannya dipacu untuk mendukung kegiatan tersebut dan semua bermuara kepada kepentingan ekonomi.
Dewasa ini karena dipicu oleh krisis energi dunia dan kerusakan lingkungan (pemanasan global) maka pemakaian energi yang lebih irit dan pemanfaatan energi yang terbarukan (ramah lingkungan) sangat diperlukan. Pemanfaat energi tersebut antara lain sinar matahari denga sel surya (photovoltaic), angin (kipas/turbin raksasa), panas bumi, biodiesel dari buah jarak, mikrohidro dan masih banyak lainnya. Pemanfaatan energi tersebut antara lain sebagai pembangkit tenaga listrik (masih dalam skala kecil menengah) dan transportasi umum. Teknologipun sudah mengikuti walau sebagian besar masih bersifat percobaan dan masih berkembang. Selain teknologi yang hemat energi dikembangkan terus menerus, kampanye hemat energipun terus disuarakan tidak hanya di negara-negara maju saja tetapi juga di negara-negara berkembang.
Sumber energi dapat kita bagi menjadi dua yaitu sumber energi yang dapat diperbarui atau terbarukan dan yang tidak dapat diperbarui. Sumber energi yang dapat diperbarui sering kita sebut sebagai energi ramah lingkungan dan bukan merupakan bahan tambang seperti matahari, air, udara, panas bumi, gelombang laut dan yang berasal dari hewani atau nabati. Sumber energi yang lain adalah sumber energi yang tidak dapat diperbarui yang merupakan bahan tambang seperti batu bara, gas alam dan minyak bumi serta termonuklir (Nuclear Fission/Fusion). Fisi nuklir menggunakan bahan tambang Uranium 235 yang memilki persediaan sangat sedikit dan sudah diaplikasikan sebagai pembangkit tenaga listrik sedangkan Fusi nuklir masih dalam taraf percobaan dan pengembangan, berbahan dasar hidrogen.
Bahan-bahan tambang seperti batu bara, gas alam, minyak bumi dan fusi nuklir semakin lama semakin habis, dan hasil galiannya dapat merusak lingkungan. Bahan tambang ini seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara terjadi dari pengendapan makhluk hidup yang mati dan terkubur sejak jutaan tahun lalu dan berproses bersama bahan-bahan lain di dalam perut bumi, karena itu bahan tambang ini sering disebut juga dengan bahan bakar fosil (fossil fuel).


