Kebangkitan (Indonesia) oleh @budimandjatmiko

Berikut adalah hasil jahitan dari Kuliah (lewat) Twitter atau KulTwit tentang Kebangkitan oleh Budiman Sudjatmiko pada tanggal 31 Agustus 2010. Semoga bisa bermanfaat…

50. Revitalisasi budaya yang berlangsung pada abad 11-13 adl tonggak pertama #kebangkitan Eropa

49. Pada masa itu, sastra, puisi, drama, bahasa serta asas hukum Yunani, Arab dan Romawi kuno mengalami #kebangkitan kembali

48. Pada abad 11-13 Eropa mengalihbahasakan naskah2 kuno yang ada di masa sebelumnya. Ia dikenal sbg proses revitalisasi budaya #kebangkitan

47. Tonggak pertama #kebangkitan Eropa adl kesadaran akan pentingnya penggalian kembali tradisi yang berkembang di Yunani, Arab dan Romawi

46. Saya melihat transformasi #kebangkitan Eropa dr abad 11-19 sebagai sbh kesatuan yg terdiri dari 6 buah tonggak utama

45. #kebangkitan Eropa dari era kegelapan, misalnya, adl sbh proses panjang yang berlangsung selama lebih dari 8 abad

44. Rome wasn’t built in a day, saya percaya begitu juga dengan peta jalan #kebangkitan

43. Kita harus menemukan rahasia #kebangkitan utara, lalu mengkajinya secara kritis, sesuai dgn karakteristik Indonesia sbg negara kepulauan

42. Mengapa peradaban dunia terus didominasi oleh belahan utara khatulistiwa? Refleksi ini penting dlm menyusun jalan #kebangkitan Ind

41. Arus peradaban terus menginvasi dari “utara ke selatan”, dan “selatan” nyaris hanya tinggal menerima #kebangkitan

40. Ada beberapa kemajuan pasca reformasi, tp sulit u/ mengatakan bahwa panji-panji Trisakti telah berkibar di Bumi Pertiwi #kebangkitan

39. Politik anggaran 20% tanpa konsep yg jelas, tdk akan berhasil meningkatkan produktivitas pendidikan dan penelitian #kebangkitan

38. Selain pendidikan dasar, pengembangan pendidikan tinggi dan penelitian hrs jd agenda utama bangsa ini ke depan #kebangkitan

37. Para peneliti potensial terus bermigrasi ke luar negeri. Kita harus menjaga pandu-pandu terbaik untuk Ibu Pertiwi #kebangkitan

36. Saya prihatin melihat data kuantitas penelitian ilmiah Indonesia di panggung internasional yang sangat kecil #kebangkitan

35.Mengapa intelektual sering mengimpor pengetahuan kontinental tnp memperhatikan karakteristik Indonesia sbg negeri kepulauan? #kebangkitan

34.Jk karakteristik sosial-ekologis-geografis tdk jd pertimbangan pengambil keputusan, maka akan terjadi krisis sosial-ekologis #kebangkitan

33. Jk angkatan muda tercerabut dari nilai dan akar sejarahnya, akan lahir mentalitas bangsa terjajah (inlander) #kebangkitan

32. Negara tetangga secara periodik dapat mengklaim kekayaan tradisi Indonesia, karena kita tdk py database kekayaan budaya Ind #kebangkitan

31. Apa kita tlh berkepribadian dlm budaya jk 65 th stlh merdeka, kita blm jg berhasil menginventarisiasi kekayaan budaya Ind? #kebangkitan

30. Jika melihat data2 ekonomi, bagaimana caranya untuk mengatakan bahwa kita telah berdirikari dlm ekonomi? #kebangkitan

29. Perusahaan sawit dari Malaysia terus menginvasi sektor perkebunan Ind, telah menembus angka 2 juta hektar #kebangkitan

28. FTA ASEAN-China menimbulkan kepanikan yang begitu besar di sektor riil, seperti manufaktur, tekstil dan farmasi #kebangkitan

27. Data menujukkan 67% kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia dikuasai oleh investor asing #kebangkitan

26. Apakah ketidakberdayan mengatur pasokan gas dlm negeri karena ladang gas dikuasai asing adalah sebuah berdikari? #kebangkitan

25. Apakah kita telah berdikari dalam ekonomi jk produksi minyak nasional dikontrol oleh korporasi asing? #kebangkitan

24. Melihat fakta2 yg ada hari ini, bagaimana cara u/ mengatakan bahwa kita telah berdaulat dalam bidang politik? #kebangkitan

23. Kemandulan diplomasi internasional membuat para buronan koruptor terus nyaman bersembunyi di negara tetangga #kebangkitan

22. Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan kerugian negara 30 triliun setiap tahun akibat illegal fishing #kebangkitan

21. Perjanjian lintas udara Indonesia-Singapura telah mencederai kedaulatan Indonesia di udara #kebangkitan

20. Hari ini, pemerintah berhutang melalui skema perdagangan karbon dgn menjual hutan Indonesia dlm konferensi di Kopenhagen #kebangkitan

19. Apakah kita sdh berdaulat dlm politik? Thn 98, Soeharto membungkuk dan menandatangani LOI dengan IMF, lalu bgmn hari ini? #kebangkitan

18. Trisakti sejatinya adl sebuah kompas dan tolok ukur tujuan berbangsa #kebangkitan

17. Bung Karno tlh mewariskan landasan Trisakti: kedaulatan politik, berdikari dlm ekonomi & berkepribadian dlm budaya #kebangkitan

16. Noto-Negoro bkn hy berbicara ttg penataan politik. Ia bersifat komprehensif dg memayungi segi-segi ekonomi & budaya juga #kebangkitan

15. Sisi seberang jembatan proklamasi adl keleluasaan u/ mengatur kekuatan diri & menata elemen peradaban negara ( Noto-negoro) #kebangkitan

14. Proklamasi kemerdekaan telah membentangkan sebuah jembatan emas u/ kita seberangi (kata Bung Karno) #kebangkitan

13. Proklamasi 17 Agustus 1945 sejatinya adalah kesempatan untuk menebus kealfaan di masa lalu #kebangkitan

12. Butuh waktu yang sangat lama untuk dapat menebus kegagalan sejarah u/ menahan berbaliknya arus peradaban #kebangkitan

11. Kegagalan dlm mengatur kekuatan diri & menata elemen bangsa harus dibayar dengan kemunduran peradaban #kebangkitan

10.Pramoedya dlm ‘Arus Balik’ tlah mngingatkan kisah berbaliknya arus peradaban dr selatan ke utara menjadi dr utara ke sltn #kebangkitan

7-9 terlewatkan oleh penulisnya…

6. Optimisme akan #kebangkitan sdng terancam dari 2 sisi: patah arang dan masa bodoh di satu sisi serta halusinasi yg menipu di sisi lain

5. Jika pun harapan-harapan itu coba tetap dimunculkan, kita sering kesulitan membedakannya dengan ilusi-ilusi #kebangkitan

4.Masyarakat suka membunuh harapan-harapannya sendiri, bahkan sebelum harapan-harapan tersebut sempat dilahirkan #kebangkitan

3.Ada sebgian pemimpin yg tdk sanggup saat dituntut utk lbh bnyk berkorban demi tujuan besar bangsanya #kebangkitan

2.Keraguan muncul saat idealisme bertabrakan dgn kepentingan2 sesaat sbg pribadi dan golongan #kebangkitan

1.Indonesia ialah republik tg pemimpinnya tahu apa yg semestinya diraih. Sayang bnyk yg diayun kebimbangan u/meraihnya #kebangkitan

(Urutan sesuai dengan timeline)

Pola Konsumsi Energi dan Penggunaan Energi Surya untuk Permukiman Massal di Kota (bag.3)

Seperti yang telah diuraikan pada tulisan sebelumnya, maka padapembahasan kali ini saya ingin memberikan sedikit sumbangan pemikiran sesuai dengan kemampuan saya yaitu bagaimana menerapkan penggunaan energi matahari sebagai pembangkit tenaga listrik pada permukiman di kota yang secara mandiri, energi listrik tersebut ‘dihasilkan’ dengan mengintegrasikan  bahan-bahan sel atau modul fotovoltaik ke dalam bahan-bahan ‘pembentuk’ bangunan seperti atap. Ini sebenarnya bukanlah hal yang relatif baru karena telah digunakan dibeberapa negara, tetapi untuk permukiman atau unit hunian kebanyakan (Eropa) energi surya ini juga sebagai pemanas ruang yang sudah diintegrasikan ke dalam bahan-bahan bangunan yang mudah menyerap panas. Penggunaan modul fotovoltaik dalam skala yang relatif besar di Indonesia telah diterapkan. Contohnya yaitu di desa Kenteng, Gunung Kidul dan desa Sukatani, Sukabumi.

Masalah permukiman di wilayah perkotaan sangat erat kaitannya dengan pertambahan jumlah penduduknya. Kota-kota besar sudah mengalami kesulitan untuk menampung konsekuensi arus urbanisasi di atas penambahan penduduknya sendiri karena kelahiran. Daya tampung kota seperti penyediaan lahan untuk permukiman terasa menjadi semakin sempit. ‘Pengkaplingan’ daerah permukiman kota pada tata ruang kota yang sudah direncanakan sedemikian rupa tetap belum dapat mengatasi permasalahan tersebut. Sebagai akibat dari keterbatasan lahan dan salah satu  solusi untuk permukiman khususnya didaerah yang dekat dengan ‘pusat’ kota (downtown) maka pembangunan unit hunian mau tidak mau ‘harus’ vertikal seperti rumah susun atau flat. Pembangunan rumah susun memang lebih cenderung untuk masyarakat menengah bawah, disamping untuk mengatasi kekurangan akan unit hunian juga sering dikaitkan dengan ‘peremajaan’ kampung (semoga bukan sekedar ’pemolesan’ wajah kota saja).

Jika kita pilah-pilah dengan pendekatan konsumsi energi (listrik) maka ‘pembagian’ golongan pendapatan dapat kita jadikan acuan. Bagian pertama yang menjadi pembahasan adalah hubungan kebutuhan energi, pola konsumsi dan golongan pendapatan. Menurut Durning 1992, ada tiga kelompok masyrakat dalam pola konsumsinya (barang) yaitu masyarakat miskin, kelas menengah dan kelas atas. Semakin ke atas (kelas atas) semakin boros dalam mengkonsumsi barang.  Karena keterbatasan waktu dan data maka penulis membagi dua golongan saja yaitu menengah bawah dan menengah atas, dimana golongan sangat miskin dan sangat kaya tidak termasuk di dalamnya. Pola konsumsi energi tidak terlepas dari pola konsumsi kebutuhan barang-barang, kebutuhan pokok dan sekunder walaupun hal tersebut tidak selalu benar. Sebagian besar masyarakat yang masuk dalam golongan menengah atas akan lebih banyak memerlukan barang-barang sekunder bahkan kebutuhan tersier. Sebagai contoh mereka menggunakan rice cooker untuk memasak, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, mesin cuci, penghisap debu, TV set dan stereo set untuk hiburan,  barang lainnya untuk pemenuhan kebutuhan sekunder. Untuk beberapa jenis barang sekunder tersebut sekarang sudah bukan menjadi barang ‘mewah’ lagi. Coba bayangkan berapa banyak energi listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan barang-barang tersebut. Boleh jadi masyarakat (keluarga) yang menggunakan barang-barang tersebut seperti rice cooker, mesin cuci adalah keluarga yang sibuk, sehingga penggunaan barang-barang tersebut untuk mempercepat waktu dan menghemat tenaga. Kemajuan teknologi memang dibuat untuk hal-hal tersebut, tetapi akan lebih baik jika barang-barang yang diciptakan cukup hemat energi. Kalimat seperti diatas tentulah bukan mau mengajak kita untuk hidup mundur seperti jaman batu kasarnya atau meniru hidup seperti bangsa Amish di utara Amerika, hanya mengajak kita untuk berpikir bijaksana dalam pemakaian energi. Kita dapat mengambil hal-hal yang bijaksana dari cara hidup bangsa Amish atau suku Baduy Dalam.
Pendekatan pola konsumsi energi dan gaya hidup masyarakat menengah tersebut selanjutnya dikaitkan ke dalam pokok bahasan utama yaitu penggunaan modul fotovoltaik untuk permukiman massal. Artinya jika kebutuhan energi yang dibutuhkan satu keluarga (unit hunian) cukup besar maka dibutuhkan modul fotovoltaik yang besar pula. Masalah yang ditimbulkan kemudian adalah keterbatasan ‘lahan’ untuk menggelar modul fotovoltaik tersebut. Ada satu hal yang positif jika ingin menerapkan modul fotovoltaik dari sebuah paradigma keluarga ibukota yang super sibuk, (ayah dan ibu bekerja) yaitu beban energi yang mereka gunakan lebih banyak di malam hari. Jika diasumsikan satu blok unit hunian memiliki keadaan seperti itu maka dapat dipakai dua sumber energi yaitu sumber energi konvensional untuk malam hari dan modul fotovoltaik untuk siang hari.

Pendekatan berikutnya pada pola konsumsi energi dan gaya hidup masyarakat menengah bawah. Pola konsumsi masyarakat menengah bawah dalam penggunaan energi listrik lebih kepada hal-hal yang ‘penting’, dikarena biasanya mereka mengkonsumsi listrik untuk unit rumah dengan beban listrik yang rendah. Penggunaan energi listrik yang berlebihan akan menyebabkan tambahan pengeluaran biaya bulanan. Mereka akan memasak (menanak nasi) tanpa rice cooker, mencuci pakaian tanpa mesin cuci, apalagi untuk pengkondisian udara mereka paling hanya memakai kipas angin kecil bukan AC yang mereka gunakan. Penerangan bagi mereka juga secukupnya, semaksimal mungkin menggunakan cahaya matahari pada siang hari untuk penerangan.

Keadaan diatas dapat diilustrasikan sebagai berikut yaitu pada kondisi sebuah keluarga yang dikelompokkan dalam  masyarakat dimana suami bekerja, istri adalah ibu rumah tangga dan anak lebih dari tiga orang.  Kegiatan sehari-hari pada keluarga seperti ini adalah suami bekerja pada siang hari sehingga tidak berada di rumah, istri sebagai ibu rumah tangga menghabiskan waktu untuk pekerjaan-pekerjaan di rumah kadang membantu suami dengan berdagang. Jika sudah selesai bekerja kegiatan yang dilakukan  biasanya adalah menonton acara TV. Anak-anak pergi ke sekolah dan baru berada di rumah pada siang harinya, terkadang sesampai di rumah dilanjutkan lagi dengan bermain di luar rumah. Salah satu ilustrasi tersebut cukup mewakili keadaan sebuah keluarga yang ‘umum’ kita temukan. Kita bisa melihat bagaimana pola konsumsi energi mereka. Jika kita asumsikan kelurga tersebut masuk dalam kelompok menengah bawah berarti penggunaan konsumsi energi  pada ilustrasi keluarga tersebut tidak ‘berlebihan’.  Mereka akan menggunakan energi listrik untuk sekedar penerangan pada malam hari, tidak menggunakan mesin cuci atau rice cooker. Penggunaan energi listrik terbesar  kemungkinan hanya digunakan untuk televisi karena sebagai alat hiburan dan mereka akan memanfaatkan sebesar-besarnya sirkulasi udara alami untuk penghawaan, menghindari sebisa mungkin untuk tidak memakai kipas angin.

Ilustrasi berikutnya adalah keluarga pasangan baru yang belum mempunyai anak pada kelompok menengah atas. Pasangan tersebut bekerja pada siang hari dan kembali pada sore hari menjelang malam.  Karena itu dapat diasumsikan penggunaan energi listrik hanya pada malam hari saja. Tetapi sebagian besar dari kelompok masyarakat ini adalah orang-orang yang berpendidikan, karena itu  kemungkinan untuk mengkonsumsi barang-barang yang membutuhkan energi listrik cukup besar, misalnya menggunakan rice cooker untuk memasak, televisi dan alat hiburan yang lain, mesin cuci, komputer, dan minimal menggunakan kipas angin untuk mengkondisikan udara. Pada kondisi seperti ini dapat dikatakan mereka menggunakan energi paling minimal pada siang hari pada hari kerja dan menggunakan energi cukup besar malam harinya.

Dari dua buah  ilustrasi kehidupan seperti diatas kita dapat mengetahui seberapa besar tingkat konsumsi energi dan seperti apa gaya hidup mereka dalam pemakaian barang-barang sekunder yang membutuhkan energi. Kelompok masyarakat menengah atas yang rata-rata berpendidikan ternyata lebih besar dalam mengkonsumsi energi listrik. Keadaan ini merupakan sebuah permasalahan yang akan dibahas kemudian yang berhubungan dengan penggunaan SESF dan disain unit hunian.

Kemudian setelah kita berbicara mengenai pola konsumsi energi pada kelompok masyarakat berikut ilustrasinya, kita aka berbicara bagaimana menerapkan SESF pada sebuah disain unit hunian massal (rumah susun atau flat) dengan menempatkan kelompok masyarakat seperti apa yang dapat ‘berintegrasi’ kedalam unit hunian tersebut. Pertanyaannya menjadi unit hunian semacam apa yang dapat menghemat enegi dan dapat disuplai dengan menggunakan SESF dan akan lebih baik jika suplai energi tersebut mandiri dalam arti setiap pembangkit energi akan mensuplai komunitasnya sendiri yang mungkin nantinya akan dapat merubah pola konsumsi energi pada masyarakat.

Unit hunian seperti yang sedikit dijabarkan dalam sebuah pemodelan diatas dapat menjadi acuan untuk uraian kedepan tetapi tidak semua dari pemodelan diatas dapat secara gamblang diterapkan pada disain unit hunian disini. Bertitik tolak pada kelompok masyarakat mana yang terbesar yang membutuhkan permukiman, maka kita dapat melihat kebutuhan akan ruang pada unit bangunannya. Kemudian jika kita ingin agar dapat memenuhi semua kelompok masyarakat maka akan ada sedikit ‘tawar menawar’ yang tidak mengurangi esensi dari pemikiran ini. Esensinya adalah unit hunian pada bangunan ini harus melihat sisi ekologisnya agar dapat semaksimal mungkin menyediakan sendiri energi listriknya melalui penggunaan fotovoltaik.  Ukuran unit bangunan dengan panjang 7,6 m dan lebar 6,4 m atau dengan luas lebih dari 48 m persegi atau bisa kita sebut dengan tipe 48 seperti yang diusulkan oleh V. Badescu dari Polytechnic University of Bucarest dapat kita pakai sebagai acuan khususnya untuk unit keluarga yang telah memiliki anak sebagai prioritas.  Sebagai acuan dari tipe unit bangunan massalnya dapat kita pakai pembanding adalah flat Pulo Mas. Memang sedikit agak teknis pendekatan seperti ini, tetapi penulis hanya ingin memberikan sedikit gambaran dari uraian-uraian diatas.

Flat Pulo Mas, satu blok huniannya memiliki 4 unit hunian per lantai yang terdiri dari 4 lantai, ini berarti satu blok flat memiliki 16 unit hunian. Jika kita masukkan tipe unit 48 seperti uraian sebelumnya maka kita akan mendapatkan ukuran luas bangunan    48 m2  X 4 = 192 m2 , kemudian kita tambahkan dengan sirkulasi 20% maka akan mendapatkan luasan adalah 230,4 m2.  Kita asumsikan lay out letak unit hunian sama dengan flat Pulo Mas yaitu saling berhadapan dua unit, yang salah satu sisinya memiliki panjang     2 X 7,6 m = 15,2 m dan sis berikutnya adalah 15,15 m. Ada dua bentuk atap yang dapat diusulkan untuk digunakan; pertama adalah atap datar, dengan atap datar berati kita memiliki luasan sel fotovoltaik minimal seluas 230,4 m2 (tanpa teritisan). Kekurangan atap datar ini adalah hanya mendapatkan cakupan sudut jatuhnya sinar surya yang efektif kecil. Karena itu untuk mengoptimumkan jatuhnya sinar surya pada atap datar kita dapat menambahkan sedikit mekanisme dimana peletakan sel fotovoltaik pada sebuah rangka yang dapat diatur kemiringannya mengikuti sudut jatuhnya sinar surya sepanjang hari. Kedua adalah model atap pelana; atap pelana mempunyai dua sisi miring yang berlawanan. Untuk dapat menangkap sinar surya seefektif mungkin maka kita meletakkan bangunan sedemikian rupa dengan sisi atap menghadap barat dan timur.  Di sini kita menggunakan bahan penutup atapnya adalah sel fotovoltaik itu sendiri. Luasan sel fotovoltaik masing-masing sisi dapat kita hitung secara kasar dengan kemiringan sudut 25 derajat dan teritisan sejauh 1 meter pada masing-masing sisinya adalah 160,82 meter persegi. Masing-masing luasan yang didapat dari perhitungan untuk menggelar sel fotovoltaik tersebut dari setiap bentuk atap itulah yang menjadi sistem pembangkit energi listrik masing-masing blok hunian atau untuk luasan meter persegi yang di dapat setiap blok harus mensuplai 16 unit hunian.

Sama saja jika ingin diterapkan pada bangunan rumah susun, yang seandainya setiap lantainya terdiri dari 8 sampai 10 unit hunian dengan 4 lantai dan tipe yang sama (T 48), ini berarti satu blok rumah susun harus mensuplai energi listrik untuk  32 – 40 unit hunian. Penentuan unit hunian per lantai dan banyaknya lantai harus mempertimbangkan faktor kepadatan. Walaupun luasan atapnya lebih besar dari tipe flat karena rumah susun umumnya memanjang, tetapi unit hunian yang harus disuplai cukup banyak. Untuk itu harus diadakan perhitungan yang labih detail apakah penggunaan sel fotovoltaik yang diletakan sebagai bahan penutup atap mampu mensuplai dalam skala yang lebih besar.

Letak bangunan disamping harus memperhatikan garis edar matahari juga mempertimbangkan arah angin (Frick, Heinz 1998). Arah angin ini akan berhubungan langsung dengan pengkondisian udara pada tiap-tiap unit hunian yang dapat mencegah sekecil mungkin penggunaan AC dan kipas angin apabila dirancang dan dihitung secara baik. Desain unit hunian harus memiliki ventilasi yang cukup dan baik (silang akan lebih baik) untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan angin, begitu juga bukaan-bukaan yang didisain sedemikian rupa  akan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sinar surya untuk penerangan terutama di siang hari. Karena Indonesia hanya mengalami dua musim saja tanpa musim dingin, maka unit hunian yang direncanakan tidak perlu memakai sistem pemanas seperti yang dimodelkan oleh V. Badescu dari Polytechnic University of Bucarest di atas, sehingga pemakaian bahan-bahan bangunannyapun tidak perlu yang mudah menyerap dan menyimpan panas. Mungkin yang diperlukan disini yaitu bahan-bahan yang tidak mudah menyerap panas (kalor) tetapi cukup ‘ramah’ lingkungan. Ini sisi lain yang merupakan pekerjaan para ahli bahan bangunan atau para ‘pengembang’ ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat bersama-sama memikirkan  atau menyumbangkan inovasi baru sehingga turut ‘mencegah’  pengurasan energi yang tak terbarukan.

Ada sisi yang bertolak belakang yang sempat disinggung diatas yaitu penggunaan alat memasak/menanak nasi. Penggunaan rice cooker atau kompor listrik dan panggunaan kompor konvensional yang dapat berupa kompor gas atau kompor minyak tanah. Disatu sisi pemborosan energi listrik, disisi lain ‘pemborosan’ barang tambang (minyak bumi). Karena itu kembali harus ada intervensi teknologi yang memungkinkan penggunaan barang (alat-alat rumah tangga) yang tidak boros energi listrik tetapi mempunyai daya yang sama, seperti alat-alat rumah tangga dengan watt kecil dan tetap sedapat mungkin menghindari inovasi barang yang berbasis bahan tambang takterbarui. Karena itu kembali lagi kita kepada pola konsumsi masyarakat tetapi disini adalah pola konsumsi barang. Harus dari diri sendirilah kesadaran itu timbul untuk mengkonsumsi barang yang hemat energi (listrik). Tetapi mungkin apabila kita harus menempati suatu komunitas tertentu dalam hal ini adalah permukiman dengan energi listrik yang terbatas, maka secara langsung karena faktor ‘tekanan’ dari luar tersebut kita dapat merubah pola mengkonsumsi barang dari yang boros energi menjadi yang hemat, dan dapat memilah-milah prioritas penggunaan barang, misalnya jika TV sedang menyala maka kipas angin tidak menyala. Memang kelihatannya ada ‘hak-hak’ kita yang dicabut sebagai manusia yang bebas akan tetapi dengan demikian kita turut andil dalam kelangsungan hidup bumi ini, walaupun hanya sekecil itu yang kita lakukan. Pemerintahpun dan kalanganan pengusaha pemilik pabrik seharusnya turut mendukung situasi tersebut misalnya dengan menjual barang-barang yang hemat enegi (listrik) dengan harga yang relatif murah dan terjangkau oleh semua kelompok masyarakat.

Lantas seperti apa atau kelompok masyarakat yang bagaimana yang dapat menempati permukiman seperti itu. Memang akan terbayang begitu mahalnya investasi permukiman seperti itu dan untuk waktu dekat cukup jauh dari ‘pengakomodasian’ permukiman para urban yang setiap tahun mengalami kenaikan. Tetapi jika berpikir jauh kedepan maka gagasan tersebut seharusnya bukanlah mimpi atau cerita fiksi dimana nantinya terlihat sebuah kota dengan sel-sel fotovoltaik digelar diamana-mana seperti melihat hamparan metal, sangat futuristik sekali. Boleh jadi kemungkinan imajinasi seperti itu berkembang dalam isi kepala seorang  seniman.
Menjawab pertanyaan diatas, sebenarnya kelompok masyarakat dari dua kelompok yang diilustrasikan tersebut dapat menempati atau menjadi penghuni permukiman seperti itu. Hanya saja keterbatasan yang dimiliki permukiman tersebut (terbatasnya listrik misalnya) jangan menjadi tekanan masyarakat untuk memilih tinggal atau menjadi penghuni. Untuk menghilangkan tekanan tersebut mungkin pemerintah harus turut mengintervensi dengan memberikan kemudahan-kemudahan melalaui kebijakan-kebijakan baik terhadap masyarakat sebagai penghuni maupun para pengembang. Para pengembang sebagai pemilik modal memang mempunyai andil cukup besar perananannya dalam penyediaan hunian, karena itu memang harus bersama-sama pemerintah memikiran hal tersebut dalam hal ini alternatif penyediaan energi. Ada hubungan positif dimana kenaikan jumlah unit hunian akan menaikan kapasitas energi (listrik), dalam hal ini kita tidak melihat pertumbuhan industri, atau mungkin dapat dibagi untuk permukiman dapat disuplai energi fotovoltaik atau hibrida sedangkan untuk industri masih dipakai yang lama. Unit-unit pengembang teknologi yang independen atau yang tidak beserta  pihak-pihak universitas dapat menjadi mitra untuk pengembangan teknologi ini (fotovoltaik) dan menjawab permasalahan ini.

Penggunaan fotovoltaik dalam hal ini komponen pembentuknya masih menggunakan bahan-bahan yang mungkin persediaanya terbatas seperti yang telah diuraikan diatas, sehingga cukup dilematis karena disatu sisi kita ingin mengurangi bahan-bahan yang tak terbarukan untuk mengahilkan energi tetapi di sisi lain penggunaan teknologi ini ‘memerlukan’ bahan-bahan yang tak terbarukan juga. Bahan-bahan pembentuk teknologi ini juga mempunyai umur yang artinya suatu ketika dapat menjadi sampah yang mungkin tidak dapat didaur ulang atau dipakai kembali untuk bentuk yang lain.

Sel surya berpotensi menjadi sumber energi yang besar dalam masyarakat berkelanjutan. Namun kita telah lihat bahwa beberapa sel thin film yang efisien dan relatif terjangkau harganya dapat menemui hambatan yang besar dari sumber daya jika sel-sel tersebut digunakan dalam skala besar sedangkan teknologi lainnya seperti Si tanpa Ge dan silikon polikristalin tak memiliki hambatan tersebut. Karena teknologi thin film berdasarkan pada unsur yang langka maka haruslah menciptakan intensif ekonomi, dan juga kelembagaan dan teknologi yang menyediakan daur ulang dan penggunaan yang tinggi.dari perspektif ini akanlah menarik bila kita membandingkan antara sistem yang tersentralisasi dalam skala besar dengan sistem desentralisasi yang terdiri dari unit-unit kecil. Akhirnya ekspansi penggunaannya dapat ditingkatkan dengan kemajuan teknologi dan peningkatan efisiensi.

Pola Konsumsi Energi dan Penggunaan Energi Surya untuk Permukiman Massal di Kota (Bag.2)

Tinjauan Literatur

Energi Listrik Tenaga Surya atau sering disebut dengan istilah Sistem Energi Surya Fotovoltaik (SESF) menjadi salah satu alternatif penggunaan energi baru terutama dipergunakan untuk daerah-daerah yang belum terjangkau listrik seperti daerah terpencil dan pulau-pulau atau menjadi sumber energi baru untuk mengurangi penggunaan energi yang tidak dapat diperbaruhi (bahan tambang/bahan bakar) dan dapat mengurangi emisi akibat pemakaiannya serta diharapkan dapat merubah pola penggunaan energi pada masyarakat (Indonesia) terutama energi listrik di masa yang akan datang.

Menurut Abubakar Lubis pada sebuah seminar arsitektur yang diadakan pada tahun 1996, dengan jaringan listrik penempatan SESF sudah mulai ekonomis didaerah yang belum terjangkau listrik. Pada daerah perkotaan belum dapat bersaing disebabkan harga modul fotovoltaik relatif masih mahal yaitu 5 US$/watt puncak. Menurut seorang pakar, harga ini akan menurun seiring dengan berjalannya waktu dan penemuan teknologi yang semakin baru hingga dapat mencapai kurang dari 1 US$/watt puncak. Embargo minyak atas negara Arab tahun 1973 telah menciptakan suatu perlombaan baru dalam penggunaan energi tenaga surya sehingga dari biaya pemakaian yang begitu tinggi 70-80 US$/watt hingga mencapai 3.5-4.75 US$/watt di tahun 1993 atau menurun drastis selama dua dasawarsa. (Flavin, 1995).

Chayun Budiono dari BPPT pada makalahnya mengatakan kendatipun harga modul fotovoltaik masih sering dikatakan mahal, namun apabila dilihat dari keseluruhan biaya suatu SESF komposisi harga modul sesungguhnya berkisar antara 25-50% dari struktur biaya SESF. Penurunan persentasi biaya modul ternyata sedikit banyak dipengaruhi baik tidaknya disain sistem. Sehingga murah atau mahalnya suatu SESF juga ditentukan oleh baik tidaknya disain suatu SESF yang dilakukan. Untuk itu diperlukan data-data yang akurat dan spesifikasi komponen yang baik.

Secara teknis konsep SESF dapat diuraikan sebagai berikut : SESF secara umum dapat dibagi dalam dua sistem yaitu DC dan AC dengan dan tanpa baterai, prinsipnya terdiri dari beberapa modul fotovoltaik, kontrol, inverter, beban, kapasitas sub sistem yang masing-masing tergantung pada perhitungan yang berdasarkan kebutuhan daya, lokasi sumber dan radiasi setempat. Modul Fotovoltaik ditinjau dari kemajuan teknologi sel surya : single atau monopoli, semi kristal dan amorphos atau thin film (ada yang transparan dan yang fleksibel). Salah satu kelebihan SESF adalah sifatnya yang ‘moduler’ dengan pengertian bahwa SESF dapat dirancang dari yang hanya sekitar puluhan watt atau lebih kecil sampai dengan puluhan kilowatt atau lebih besar, dengan demikian, dalam hubungannya dengan perlistrikan di suatu areal permukiman, pemasangannya memungkinkan sekali dilakukan secara sentralisasi atau desentralisasi. Sentralisasi didalam SESF adalah bahwa cara pemasangan generator fotovoltaiknya terpusat pada suatu tempat didekat daerah pelayanan dimana listrik yang dibangkitkan kemudian didistribusikan ke unit-unit rumah. Desentralisasi didalam SESF adalah pemasangan SESFdilakukan langsung di unit-unit rumah sedemikian rupa sehingga tiap-tiap unit rumah akan memiliki satu atau beberapa modul fotovoltaik.

Sisi lain yang harus diperhatikan dari penggunaan solar sel yaitu berbasis pada bahan-bahan pembentuknya seperti Cd, Ga, Ge, In, Ru, Se dan Te sebagai teknologi suplai energi utama yang merupakan sumber daya yang terbatas. Beberapa bahan ini mempertinggi resiko konsentrasi kerusakan lingkungan pada ekosfir. Pada tabel dalam makalahnya menyuguhkan indikator dari potensi tekanan lingkungan bila kita memakai skenario penggunaan sel surya besara-besaran dengan anggapan bahwa sumber daya uyang dibutuhkan mencukupi. Indikator didefinisikan sebagai hilangnya material dari solar sel per tahun dibagi laju kerusakan akibat cuaca, dimana kehilangan potensial dinyatakan oleh pergantian material tiap tahun jika sel surya diganti (1/30 dari total tiap tahun dengan asumsi usia pakai 30 thn) dan laju kerusakan karena cuaca alami dinyatakan oleh fluks sedimentasi yang tersuspensi dalam sungai diseluruh dunia. Untuk beberapa elemen ukuran ini lebih dari satu. Hasil ini dapat diartikan sebagai peringatan awal bahwa pertimbangan yang hati-hati harus di ambil dengan memperhatikan dampak lingkungan potensial. (Andersson, 1998)

Permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan urbanisasi (Indonesia) salah satunya adalah penyediaan permukiman terutama untuk masyarakat menengah bawah. Hal ini berkaitan langsung dengan penyediaan lahan yang sangat terbatas. Solusinya adalah membangun permukiman secara vertikal atau rumah susun / flat. Kebutuhan akan energi dalam kaitannya dengan permukiman (unit hunian) dapat dikurangi dengan menciptakan sebuah disain yang hemat energi seperti menggunakan secara optimal bukaan-bukaan untuk penghawaan alami dan pencahayaan alami terutama siang hari. Energi yang dapat diperbaruhi berhubungan dengan teknologi baru kurang membebani lingkungan alam seperti penggunaan energi surya (listrik) dapat diintegrasikan dalam proyek eko-arsitektur (rumah susun atau flat). Kemudian, setiap jaringan energi seperti listrik membutuhkan banyak energi dalam penyediaannya dan mengakibatkan banyak kerugian. Jika energi dibangkitkan pada tempat (lokal) misalnya tenaga surya ketergantungan dan kehilangan (transmission loss) dapat dicegah. (Frick, Heinz 1998. hal. 69-70).

Sinar matahari dan orientasi bangunan yang ditempatkan tepat diantara lintasan matahari dan angin, serta bentuk denah yang terlindung adalah titik utama dalam peningkatan mutu iklim mikro yang sudah ada. Dalam hal ini tidak hanya perlu diperhatikan sinar matahari yang mengakibatkan panas saja, melainkan juga arah angin yang memberi kesejukan (efisiensi energi). Untuk itu orientasi yang paling cocok di daerah tropis dekat khatulistiwa adalah suatu kompromi antara arah barat-timur dan utara selatan. (Frick, Heinz 1998. hal. 56-57).

Disamping orientasi bangunan yang terpenting juga adalah model dari bangunan itu sendiri. Secara keseluruhan V. Badescu dari Polytechnic University of Bucarest dalam uji cobanya mengusulkan memperluas sebuah model untuk iklim dari bangunan ekologis. Radiasi surya adalah sumber energi utama. Pendekatan teori yang dipakai termasuk model adalah untuk : (i) data meteorologi secara umum; (ii) data radiasi surya; (iii) operasional optimum dari susunan fotovoltaik; (iv) interaksi panas antara bangunan dan ambien; (v) operasi dari sistem iklim. Hasil awal memperlihatkan bahwa susunan fotovoltaik memberikan semua kebutuhan energi untuk menjalankan sistem iklim dalam pertengahan musim panas pada hari yang cerah. Secara garis besar model yang diusulkan adalah sebuah bangunan dengan ukuran 7,6 m X 6,4 m, satu lantai dengan ketinggian 3 m. Memiliki tiga ruang kecil, sebuah dapur dan sebuah kamar mandi/wc. Ada 10 elemen terpisah utama (antara lain dinding, atap dan lantai) yang orientasi dan kemiringannya berbeda. Satu dari beberapa elemen terpisah tersebut yaitu loteng yang berlindung dari bangunan dimana kesembilan lainnya berkontak langsung terhadap ambien. Struktur dari elemen terpisah bergantung pada fungsinya. Bagian atap yang berorientasi ke selatan ditutupi oleh sel silikon fotovoltaik.

Pola konsumsi energi pada masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap penggunaan dan penerapan SESF terutama di daerah perkotaan. Ada dua cara merubah perilaku konsumsi energi pada masyarakat yaitu secara sadar timbul dari dalam dirinya kesadaran sendiri dan adanya ‘intervensi pihak lain’ seperti pendekatan insentif. Insentif merupakan suatu hal yang menarik dan dapat menyebabkan perubahan perilaku sedemikian rupa. Insentif ekonomi misalnya adalah sesuatu dalam dunia ekonomi yang mengarahkan upaya manusia pada produksi dan konsumsi ekonomi. Insentif dapat berupa materi (bentuk insentif ekonomi), ataupun non materi, seperti kepercayaan diri, keinginan untuk menjaga keindahan lingkungan, atau keinginan untuk menjadi contoh/teladan bagi yang lain (Field, 1997). Contoh intensif ini dalam pengkonsumsian energi dapat berupa misalnya sebagai teladan dalam usaha penghematan pengkonsumsian energi listrik yang disadarkan akan kepedulian sumber daya alam.

Sebuah penelitian melihat perubahan perilaku masyarakat dengan membuat program yang dirancang untuk memunculkan motif-motif intrinsik akan mendorong orang untuk lebih aktif berpartisipasi dan memiliki komitmen yang lebih lama daripada program yang hanya menawarkan insentif ekstrinsik. Beberapa peneliti mengkategorikan partisipasi dalam sebuah program tanpa dorongan eksternal sebagai perilaku altruistik. (Journal of Environment and Behaviour, Vol.28 No.1, January 1996). Kita memasukkan penelitian perilaku tersebut kedalam perilaku mengkonsumsi energi.

Pola Konsumsi Energi dan Penggunaan Energi Surya untuk Permukiman Massal di Kota (bag.1)

Tulisan ini merupakan tulisan saya semasa kuliah magister Kajian Lingkungan. Tulisan ini saya pecah menjadi 4 sub judul: Pendahuluan, Tinjauan Literatur, Analisis, dan Kesimpulan. Semoga berguna bagi pengunjung…

Pendahuluan

Energi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia sejak jaman dahulu. Karena ketergantungan kehidupan manusia terlebih manusia moderen terhadap energi sangat besar, maka sumber-sumber energi yang digunakan dewasa ini telah mengalami krisis. Pemicu penggunaan energi dalam skala besar terjadi pada masa Revolusi Industri (1780-an), sampai memasuki awal abad 20 orang masih eforia terhadap penggunaan energi terlihat dari ‘mesin-mesin’ yang diciptakannya. Eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber energi yang tidak dapat diperbaruhi ini masih terus berlangsung bahkan sampai saat ini. Krisis energi pada dasawarsa 1970-an membawa dampak pada perekonomian dunia. Sebagian besar negara-negara di dunia khususnya di negara maju mulai berpikir untuk mencari bentuk energi baru yang dapat diperbaruhi yang kemungkinan terkena krisis energi kecil. Pencarian sumber energi baru yang dapat diperbaruhi memang telah dilakukan di beberapa negara maju sebelum masa krisis terjadi, tetapi baru sebatas pada laboratorium penelitian dan percobaan atau sebagai pilot project di lembaga-lembaga penelitian dan di kampus-kampus. Sampai sekarangpun penggunaan energi baru untuk jenis tertentu masih dalam bentuk pilot project atau percobaan.

Energi baru adalah energi yang sudah dipakai tetapi sangat terbatas dan sedang dalam tahap pengembangan (pilot project). Energi ini belum dapat diperdagangkan karena belum mencapai skala ekonomis. (Yusgiantoro, P. 2000. hal.7). Penggunaan energi baru pada topik ini adalah penggunaan energi surya (solar energy).  Penggunaan radisasi surya sebagai sumber energi yang dapat diperbaruhi merupakan sebuah teknologi moderen.

Sel fotovoltaik radiasi surya merupakan sebuah alat semikonduktor yang merubah cahaya atau radiasi surya langsung ke dalam arus listrik. Kemajuan dalam pemakaian bahan dan efisiensi sel telah menurunkan sampai 80% dalam dua dekade belakang ini, dan sekarang pada bangunan telah dibuat sebagai penutup atap, lantai dan kaca jendela untuk ‘memperbaruhi’ panggunaan bahan yang lama. Hal ini menyebakan booming di pasar dunia. Biaya dari sel surya akan turun sampai 50-75% untuk memenuhi pesanan dalam berkompetisi dengan penggunaan bahan bakar sebagai pembangit listrik. Peningkatan kapasitasnya mengalami kenaikan dalam dua puluh tahun ini yaitu dari tingkat awal (0 MW) pada tahun 1975, hingga lebih dari 750 MW pada tahun 1995. (Flavin, 1999).

Mobilitas penduduk ke kota (urban) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dan diprediksikan tigapuluh tahun ke depan hampir lebih dari 50% penduduk Indonesia akan tinggal di kota. Angka urbanisasi mengalami kenaikan dari 28,79 (1990) menjadi 52,22 (2020). (Agenda 21. hal 87). Penambahan penduduk di kota menyebabkan daya dukung dan daya tampung kota menjadi semakin kecil, seperti semakin berkurangnya lahan unutk permukiman. Salah satu cara mengatasinya adalah membangun permukiman masal vertikal seperti rumah susun. Pembangunan rumah susun yang begitu banyak untuk mengakomodasi jumlah penduduk yang ada akan menimbulkan masalah baru diantaranya adalah kenaikan akan kebutuhan energi listrik (demand).

Dalam Agenda 21 diproyeksikan permintaan energi untuk sektor rumah tangga mengalami kenaikan dari 1124,42 joule (1991) menjadi 1792,49 joule (2021) dan permintaan tenaga listrik meningkat dari 10 TWh (1990) menjadi 70 TWh (2021). Konsumsi energi rumah tangga dalam hal ini penggunaan penerangan dan peralatan listrik masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,1% dan 9,2% per tahun. Melihat sumber diatas maka suplai akan energi listrik menjadi kurang, untuk mengatasinnya adalah membangun stasiun baru atau menaikan kapasitas pembangkit tenaga listrik dalam rangka memenuhi kebutuhan energi listrik di tahun-tahun mendatang. Adalah dengan membangun stasiun energi baru yang lebih ramah lingkungan dengan ‘bahan dasar’ dapat diperbaruhi. Salah satu pemecahan yang akan ditulis adalah membangun stasiun energi baru yang menggunakan energi surya sebagai alternatif. Disamping  ‘bahan dasarnya’ dapat diperbaruhi juga karena Indonesia berada di daerah katulistiwa (tropis) yang memiliki radiasi matahari sepanjang hari setiap tahunnya yaitu rata-rata sekitar 1700-800 kWh/ tahun (APDC, 1985). Sumber energi listrik itu nantinya berada pada lokal permukiman (khususnya permukiman massal seperti rumah susun atau flat) di daerah perkotaan. Pemanfaatan yang sebesar-besarnya pencahayaan alami dan penghawaan alami dalam disain bangunan permukiman agar dapat didapat  penghematan pemakaian energi atau efisiensi energi.

Security Service and Service Over!

Ini tulisan lanjutan kemaren, sekarang gak bahas energi walaupun masih seputar SPBU. Hari ini gw mendatangi SPBU 34.125.10 tujuannya untuk bertemu wakil dari manajemen SPBU. Jam 10 kurang gw sudah parkir di depan kantor pengelola. Agak lama berselang setelah gw parkir (karna gw lagi online ama boss BMG di bogor), kemudian turun dan diterimalah gw di depan pintu oleh sang komandan yang kemaren menangani gw, kemudian setelah dia menelpon si manager SPBU, gw dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang rapat. bla…bla…bla basa basi sama sang komandan…dia bilang si oknum akhirnya di keluarkan alias dipecat! Ya sudah mau apalagi itu otoritas mereka…mudah-mudahan si oknum bisa segera bekerja lagi dan mendapatkan tempat yang lebih baik. Amin.

Gak lama menunggu sang manager tiba, namanya Husni. Masih muda lah kira-kira kalo di lihat casing-nya gw tebak sih sekitar 40 something deh, kalo dia gak boros wajah tentunya. Hari ini gak ada dokumentasi, secara hati gw lebih tentram jadi gw pikir gak perlu lah ada bukti-bukti segala.

Bla…bla…bla gw ceritakan sedikit mengenai kejadian kemarin, dan dia menyatakan prihatin serta meminta maaf. Dia sudah ditelepon malam itu juga oleh sang komandan sekitar pukul delapan dan langsung menginstruksikan untuk membebastugaskan si oknum. Pernyataan ini di dukung oleh sang komandan, yang ternyata mendapatkan pernyataan yang kurang lebih sama dari Head Office mereka. Dalam situasi pembicaraan ini ada yang gw kurang suka dan sebal. Gw menginginkan bisa dialog dengan sang manager tetapi selalu dipotong oleh sang komandan. Gw pikir sepertinya ada semacam ‘cari muka’ sang komandan kepada sang manajer, ya supaya sang komandan tidak memutuskan kontrak dengan Security Company tempat sang komandan bekerja. Atau emang dalam frame mereka, pihak SPBU melimpahkan sepenuhnya kesalahan kepada Security Company (Bravo Security Indonesia) sehingga sudah menjadi kewajiban Bravo Security Indonesia untuk membela kepentingan pengelola SPBU. Who knows lah…

Ada satu kesempatan begini, sang komandan mengatakan bahwa si oknum sudah sering melakukan kesalahan hingga dia sudah mendapatkan SP2 (ini suplemennya windows XP kah?). Nah ini dia, langsung aja gw bilang “lha kok masih dipakai? Gimana ini Pak Husni? Ini company sudah melakukan kesalahan lho?” Ya sudah dapat diduga sang manajer hanya terdiam saja, dan sang komandan tetap saja mengoceh…bla…bla…bla.

Pak Husni sang manajer sedari masuk hingga saya bersalam dan pamit, banyak diam dan seakan berhati-hati sekali. Sewaktu gw tanya…”So…apa yang saya dapatkan selain permintaan maaf?” Lagi-lagi sang komandan yang berbicara layaknya sang jubir. Pak Husni terlihat berpikir keras dan sangat hati-hati. Mungkin dia takut salah ucap dan akhirnya gw menuntut…

Dalam hati gw menimbang-nimbang dan berpikir, seharusnya gw mendapatkan konpensasi yang layak atas musibah ini terutama dari sisi material. Apakah perlu gw tuntut sekian rupiah? 1 juta kah? 10 juta kah? atau 100 juta? Atau isi bensin gratis selama beberapa waktu? Kalo saja kejadian ini ada di Amerika, wah gw jamin dah dituntut tuh SPBU dan Security Service! Mungkin juga dibawa ke meja hijau segala. Akhirnya tuntut menuntut yang ada dikepala gw pending dulu, karena suasananya ya cukup kondusif sih. Pending bukan berarti gak dinyatakan lho…Hanya masih tetap sebal aja dengan diamnya sang manajer dan bawelnya sang komandan. Kondisi ini sebetulnya yang bikin itung-itungan tuntut menuntut gw naik kepermukaan…liat nanti deh ancam gw dalam hati ;)

Seperti yang sempat gw utarakan pada awal pembicaraan, gw sih gak terlalu berambisi untuk mengambil keuntungan materi pada situasi ini, gw hanya mau pernyataan maaf tertulis dari pihak SPBU yang ditanda tangani oleh wakil direksi bukan dari strata manajemen…dan ini disanggupi oleh sang manajer. Surat permintaan maaf dari pihak security dalam hal ini Bravo Security Indonesia juga sudah dipersiapkan menurut sang komandan. Ya…apa gunanya yah? Gw sih gak butuh…tapi mungkin ada baiknya juga sih untuk ditelaah mengenai keberadaan Security Service ini melalui surat resmi permintaan maafnya. Sedianya surat ini sudah selesai, mereka akan menghubungi gw. Dan ternyata gw masih dijanjikan untuk dapat isi fuel tank gratis dari si oknum walau dia sudah dipecat…katanya gajinya akan dipotong untuk BBM gw. Walah….gak taulah liat nanti aja deh gimana kejadiannya.

Pertanyaan gw: Security Service, Service Over? gak taulah…mungkin ada yang mau berbagi?

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)

Tulisan ini memang masih “gak jauh” dari energi…yaitu mengenai sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina, jualan minyak sih, tapi ini bukan masalah SPBU-nya melainkan masalah komplain atas kejadian di sebuah SPBU. Kecelakaan saat bertugas yang membuat orang lain dirugikan.

Isle TKP

Isle TKP

Hari ini (19 Agustus 2008) tepatnya tadi sore sekitar pukul 19.00, gw mengisi BBM (premium) buat mobil gw di SPBU 34.125.10, SPBU ini bersebelahan dengan Kantor Departemen Pertanian (DepTan) di jalan outer ring road selatan (Jl. TB. Simatupang, dekat persimpangan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta). Kata sumber yang terpercaya, ini SPBU milik seorang pengusaha keturunan Arab di Semarang. Tepat di depan gw sebuah pick up entahlah mungkin merek Suzuki warna hitam (atau biru tua?), pada ruas (isle) dimana gw masuk memiliki 2 dispenser karena itu gw tidak antri mobil pick up tadi. Setelah gw matikan mesin dan matikan lampu, gw turun dan membuka tutup tanki BBM. Gw melihat petugas SPBU sedang melayani kendaraan disisi lainnya…ya sudah sambil bersandar di mobil (ini kebiasaan gw) gw menunggu petugas. Tiba-tiba gw di datangi oleh petugas keamanan (security) yang belakang gw tau bernama Sugiarto dari Bravo Security Indonesia (BSI), menawarkan untuk mengisikan.

Dia tanya “mau diisi berapa pak?

Gw jawab “100 ribu“, sambil mengambil dompet dari saku celana, gw perhatiin dia mengetikan angka yang benar, kemudian gw mengalihkan pandangan kelain tempat.

Tiba-tiba….‘srooot’ muka dan badan gw ‘tertembak’ premium dari nozzle yang dipegang oleh petugas security tadi. “Waoow ….” teriak gw. Waduh gimana ceritanya nih kok bisa kesemprot begini? Gw hanya bisa diam…dan petugas keamanan (yang sebenarnya tidak pada tugasnya) meminta maaf…terus menerus meminta maaf. Gila banget yah situasi ini…untung dah malam dan gw gak lagi mau bepergian. Coba kalo gw mau kondangan…?!?

Lanjut…Gw bilang, gw mau ketemu sama manager SPBUnya. Dia jawab sudah pada pulang pak, sudah tidak ada orang di kantor. Gw tanya, nomor teleponnya berapa? Dia jawab tidak tahu. Padahal nomor telpon pengaduan ada pada setiap dispenser (menurut kepala keamanannya). Sang keamanan menawarkan gw untuk mampir ke tempat tinggalnya (mungkin mess kali ya) yang menurutnya gak jauh dari lokasi ini. Ini menurut gw gak bener (kurang ajar sih lebih tepatnya), emang mungkin maksudnya baik tapi…kenapa gak dia bilang sama sang komandannya? Kan berarti sang keamanan ini gak bertanggung jawab!

Gw pindahin mobil, gw parkir di tempat parkir yang emang disediakan. Gw coba kontak teman gw AO mau minta advise sebaiknya gw ngapain gitu. Dia gak bisa gw kontak bo! Ya secara nanti kalo gw tuntut gak taunya kolega si teman kan lebih enak kalo diselesaikan baek-baek toh. Ya sudah akhirnya yg bisa gw kontak WK, dia kasih advise spy ada pernyataan tertulis permintaan maaf. Ya sud, setelah gw menyiram muka dan badan dengan air (gw selalau bawa air di mobil) gw pindahin mobil ke kantor pengelolanya. Badan terasa perih bo! Loe cobain deh…

Lokasi: Kantor Pengelola.

Kepala Security

Kepala Security

Setelah gw parkir, matiin mesin dan lampu dan gw turun. Disitu ada beberpa orang dan ada meja (meja secutiy) didepan pintu kantor. Gw tanya: gw mau ketemu sama manager-nya? Salah satu dari mereka bilang: “maaf pak, sudah pada pulang. Ada yang bisa dibantu? Saya kepala keamanan disini”. Ya secara otomatis gw menjelaskan apa yang gw alami barusan. Kemudian dia mengambil buku di meja itu dan mempersilahkan saya masuk ke kantor, masuk ke ruang meeting. Dia memperkenalkan diri, nama saya Warih, pak. Sambil menunjukan ‘papan namanya’ yang ada di baju.

Bla…bla…bla terjadi percakapanlah. Dia mengeluaran secarik kertas (Surat Pernyataan) dengan kop surat Bravo Security. Kemudian dia mulai menuliskan…dia meminta KTP gw. Bla…bla…bla sambil mengulang cerita dia menuliskan. Bla…bla…bla terjadi percakapan lagi. Terus dia tanya: “apa tuntutan bapak?” Ya gw bilang:” Gw sih gak mau menuntut materi, gw mau pihak Manajemen SPBU membuat surat resmi permintaan maaf” Gampang toh…ya menurut gw sih gw baeeek banget cuma minta itu doang. Dulu waktu gw kuliah di Cawang, temen gw pernah kejadian sama persis malam juga, nah tuh SPBU di daerah tebet di kroyok, petugasnya digebukin lantas manajemennya dituntut Rp. 1 juta! Gila kan?

Lha gw cuma minta gitu doang…tau gak apa jawaban sang Kepala Keamanan. “Pak…mohon maaf kalo permintaan itu saya gak bisa, karena sebagai manusia saya memohon bapak untuk gak minta itu, kalo bapak minta itu, otomatis si oknum akan dipecat! Dia masih punya anak kecil usianya sekitar 2 tahunan. Saya Mohon pak untuk tidak menuntut hal itu.” sambil mengiba. Walah….situasi yang kejam buat gw! Gw jawab:” pak gw nih gak nuntut apa-apa? Ya udah gw minta diisiin full tank gratis!” “Boleh pak, tapi saya minta setelah dia (si oknum) gajian, tanggal 1 nanti. Dia pasti gak punya uang sekarang” kata sang Kepala. Nah lho…mati deh gw, ternyata permintaan gw itu ditujukan ke oknum tersebut. Gw pikir ke manajemen SPBU! Walah…dijaman yang sudah merdeka ini dimana orang susah masih banyak, masa gw mau bikin sesama anak bangsa menderita? Gw hanya bisa bilang dalam hati “Monyet!”. Bla…bla…bla….terjadi percakapan sok akrab dan sang Kepala berjanji akan memberikan si oknum SP3 (ini apa ya…surat pajak?…hehehe) dan hukuman fisik. Bla…bla…bla terjadi pembicaraan lagi…dan lagi. Pada akhirnya ya dengan melapangkan dada dan menarik nafas dalam-dalam, ya sudah lah gw cuma minta surat ini besok pagi harus sampai ke management SPBU dan gw minta copy nya selembar.

Dalam perjalan pulang, gw mikir. Memang di satu sisi seseorang akan kehilangan pekerjaan (nafkah) karena kelalaiannya tetapi di sisi lain jika seseoarang memang tidak capable terhadap tugasnya maka dia tidak akan menjadi yang terbaik dalam tugas tersebut. Bayangkan jika kelalaiannya menyebabkan kematian orang lain? Satu hal lagi, sebagai seorang petugas keamanan (security) dia harusnya bertanggung jawab penuh! Dia seharusnya membawa korban ke kantor (pengelola) dan diselesaikan secara baik-baik disana. Bukan disuruh ke mess untuk ganti baju dan mandi! Coba bayangin kalo si oknum punya banyak duit, mungkin gw sudah disogok supaya gak usah ngadu ke atasannya!

So…ya gw tetep mau ketemu pihak Management SPBU-nya besok. Minimal gw pingin tau bentuk ‘permintaan maaf” mereka seperti apa? Gw juga udah siapkan rencana untuk kirim ke surat pembaca mungkin ke harian Kompas atau Suara Pembaruan dan tentunya ke milis-milis serta situs-situs penampungan, kalo gw masih kecewa! Tunggu hasilnya besok…

Lokasi SPBU 34.125.10:

Energy: Sumber yang Terbarukan

Matahari, air, udara, panas bumi, gelombang laut dan bahan yang berasal dari hewani dan nabati dapat dikatakan selalu tersedia dan tidak akan habis.

Energi Cahaya Matahari

Sinar matahari merupakan energi yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil energi listrik dan penghasil energi panas. Sebagai penghasil energi listrik, sinar matahari ditangkap dalam sebuah panel surya (photovoltaic). Panel surya adalah alat yang terdiri dari sel surya yang mengubah cahaya menjadi listrik. Matahari memiliki sumber cahaya terkuat yang dapat dimanfaatkan. Sel surya atau sel PV bergantung pada efek photovoltaic untuk menyerap energi matahari dan menyebabkan arus mengalir antara dua lapisan bermuatan yang berlawanan. Sel surya selain dapat dimanfaatkan langsung sebagai energi listrik di siang hari, bisa juga disimpan dalam sebuah baterai untuk digunakan jika diperlukan, misalnya digunakan untuk menyalakan lampu pada saat malam hari.

Penggunaan panel surya banyak diterapkan di daerah-daerah yang belum terjangkau jalur listrik yang ada. Selain itu digunakan secara terbatas untuk menjalankan alat-alat elektronik yang mandiri jauh dari kegiatan manusia dan tidak perlu setiap saat dikontrol serta tidak membutuhkan energi besar.

Kelemahan dari energi listrik ini antara lain:

  • Ketergantungan terhadap sinar matahari besar
  • Sudut jatuhnya sinar tergantung arah edar matahari yaitu arah timur dan barat
  • Waktu sinar yang terbatas
  • Bidang penangkapan yang besar sehingga dibutuhkan lahan yang luas untuk menggelar panel surya yang besar
  • Harga panel surya masih mahal

Panel surya memiliki kelebihan antara lain:

  • Energi yang dihasilkan ramah lingkungan
  • Sumber energi tidak akan habis, selama matahari masih bersinar
  • Panel surya yang tipis mudah dibentuk dan dapat diletakkan mengikuti permukaan bangunan, baik dinding maupun atap.
  • Pemasangan lebih mudah

Beberapa rumah tangga di kota besar sudah memanfaatkan sel surya sebagai pemanas air.

Energi Air (hidro electric)

Pemanfaatan air untuk mempermudah pekerjaan, berbentuk roda air telah ada sejak jaman dahulu. Prinsip kerjanya sama dengan pembangkit listrik sekarang, roda air yang dahulu merupakan bagian dari suatu alat mekanik tertentu, sekarang digunakan untuk menjalankan turbin.Turbin yang memiliki putaran tinggi akan menjalankan generator listrik kemudian listrik yang dihasilkan didistribusikan ke gardu-gardu listrik melalui kabel sebelum didistribusikan ke rumah-rumah atau bangunan yang membutuhkan. Dalam skala kecil (komunitas lokal) prinsip pembangkit ini dapat diaplikasikan, tentunya dengan hasil listrik yang kecil, misalnya cukup untuk penerangan di pos ronda atau penerangan jalan desa.

Dalam skala besar pembangkit ini memiliki kelemahan antara lain: dibutuhkan lahan yang luas untuk membangun bendungan dan memiliki dampak ekologi lokal akibat pembangunan bendungan tersebut yang membuat perubahan lingkungan setempat. Kelebihan dari pembangkit ini antara lain: listrik yang dihasilkan cukup besar dan dapat diaplikasikan juga dalam skala yang lebih kecil.

Energi Angin

Seperti halnya dengan energi air, pemanfaatan energi angin berupa kincir angin, juga sudah ada sejak jaman dahulu. Masyarakat Persia kuno menggunakannya untuk memompa air, begitu juga dengan masyarakat eropa sejak berabad lalu, selain untuk memompa air juga digunakan untuk mengolah gandum. Negara Belanda menjadi terkenal dengan kincir anginnya yang dijadikan sebagai icon. Sampai hari ini penggunaan kincir angin untuk memompa air untuk keperluan peternakan dan lahan perkebunan masih digunakan di beberapa daerah (di beberapa negara) terutama yang jauh dari jalur listrik yang ada.

Prinsip kerja dari kincir angin ini sama dengan roda air, kincir akan bergerak oleh angin dan memutar turbin. Turbin yang dirancang khusus untuk memiliki putaran tinggi akan menjalankan generator listrik, kemudian listrik yang dihasilkan didistribusikan ke gardu-gardu listrik melalui kabel sebelum didistribusikan ke rumah-rumah atau bangunan yang membutuhkan. Dalam skala yang besar, turbin angin ini sudah dapat memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah besar. Sama halnya dengan panel surya, turbin angin jika untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah besar maka diperlukan lahan yang luas sebagai ladang turbin angin. Tetapi untuk kebutuhan yang kecil (lokal) misalnya rumah tangga, turbin angin dapat digunakan secara mandiri, tentunya dalam ukuran yang lebih kecil.

Turbin angin sangat tergantung terhadap cuaca di suatu daerah, terkadang angin berhembus kencang terkadang sepoi-sepoi, karena itu pada setiap ladang turbin angin, memiliki baterai penyimpan yang digunakan apabila kondisi angin tidak mencukupi. Daerah yang paling baik untuk didirikan turbin angin adalah daerah pantai dan daerah pegunungan. Kedua daerah ini memang mempunyai angin yang cukup kencang hampir sepanjang tahun. Daerah pantai memiliki angin darat dan angin laut selama 24 jam, apalagi jika terjadi badai, perputaran turbin semakin kencang dan listrik yang dihasilkan semakin banyak.

Selain tergantung dengan derah, turbin angin ini membutuhkan lahan yang cukup luas guna menyebarkan alat ini dalam jumlah yang banyak. Semakin banyak jumlah turbin angin, maka semakin besar daya yang di hasilkan.

Energi Panas Bumi (geothermal)

Energi panas bumi dapat dimanfaatkan jika terjadi aliran panas (uap) dari dalam bumi yang muncul di permukaan baik itu sengaja oleh manusia atau dengan sendirinya terjadi oleh alam. Ada dua sistem yang digunakan untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan energi panas bumi. Sistem pertama adalah condensing turbine, yakni pembangkit listrik yang dilengkapi alat kondensasi untuk mengubah uap menjadi air. Uap yang dicairkan dilewatkan pada turbin dan menyebabkan perputaran turbin menjadi lancar sehingga produksi listrik lebih banyak dan tidak terjadi tekanan balik yang menghambat perputaran. Sistem kedua adalah sistem siklus biner. Prinsip operasi sistem ini yaitu panas dari panas bumi berupa cairan dan gas (fluida geotermal) dari bawah bumi yang dipindahkan dengan alat penukar panas (heat exchanger) memanasi fluida organik melalui bagian penguapan (vaporizer). Fluida organik (seperti N-pentane) itu kemudian disalurkan ke turbin berputar sehingga dapat menggerakkan generator yang membangkitkan listrik. Kemudian, uap organik yang keluar dari turbin dikondensasikan menjadi cairan lagi, lalu dipompakan lagi ke dalam pemanas (reheater) dan vaporizer kembali ke turbin. Begitu seterusnya menjadi suatu siklus. Cairan panas bumi yang telah memanaskan fluida organik dipompakan lagi ke dalam tanah, demikian juga siklus air geotermal hanya memindahkan panasnya, sesudah itu dipompakan lagi ke dalam tanah.

Energi Nabati dan Hewani

Energi Nabati (tumbuh-tumbuhan) dan Hewani adalah pemanfaatan limbah yang dihasilkankannya. Limbah yang dihasilkan dari pertanian dan peternakan dapat digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Pemanfaatan beberapa limbah pertanian melalui proses fermentasi akan menghasilkan ethanol dan alkohol yang dapat digunakan sebagai cairan bahan bakar. Selain limbah pertanian, tanaman juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi sebelum menjadi limbah. Sebagai contoh fermentasi tebu atau jagung akan menghasilkan alkohol dan ester. Limbah peternakan menghasilkan limbah organik dari kotoran ternak seperti sapi, kerbau, babi dan kambing. Melalui sebuah proses, limbah organik ini akan menghasilkan gas yang dapat digunakan untuk bahan bakar, misalnya digunakansebagai bahan pengganti minyak tanah dan gas LPG untuk memasak.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.